Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Perbukitan Menoreh: Inovasi Mitigasi dan Kebijakan Strategis
Kawasan Perbukitan Menoreh, yang melintasi wilayah Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta sebagian Purworejo dan Magelang di Jawa Tengah, merupakan salah satu Destinasi Wisata Super Prioritas yang memikat dengan keindahan alamnya. Namun, di balik pesona tersebut, tersimpan potensi geologis berupa kerentanan terhadap bencana tanah longsor. Menyadari urgensi ini, Badan Otorita Borobudur (BPOB) dan Dinas Pariwisata DIY telah merumuskan serangkaian program dan kebijakan strategis untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan, dengan fokus pada mitigasi longsor wisata dan keselamatan wisatawan.
Pendekatan Inovatif Berbasis Ekologi dalam Pengembangan Destinasi
Dalam upaya pengembangan destinasi di Perbukitan Menoreh, BPOB mengadopsi pendekatan yang sangat memperhatikan aspek ekologi pariwisata. Pemetaan potensi bencana tanah longsor menjadi langkah awal yang krusial, memungkinkan identifikasi area rawan bencana dan perumusan strategi pembangunan yang adaptif. Salah satu inovasi atau pendekatan baru yang ditekankan adalah menghindari pengeboran air tanah secara masif. Kebijakan ini diambil berdasarkan pertimbangan kondisi geologis Perbukitan Menoreh yang didominasi jenis tanah merah dan batuan, di mana pemanfaatan air tanah berlebihan dapat memperbesar risiko ketidakstabilan lahan.
Selain itu, BPOB juga secara tegas membatasi praktik penebangan hutan secara masif di kawasan ini. Hutan memiliki peran vital sebagai penahan erosi dan penjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan vegetasi dapat secara signifikan meningkatkan peluang terjadinya longsor, terutama di area dengan kontur tanah yang menantang. Oleh karena itu, pembangunan di Perbukitan Menoreh diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan kontur alami lahan, bukan mengubahnya secara drastis. Pendekatan ini merupakan salah satu upaya fundamental dalam konservasi area wisata dan menjadi landasan bagi ekowisata Yogyakarta yang bertanggung jawab dan tahan bencana.
Mengelola Risiko dan Menjamin Akses Wisata di Kawasan Rawan Bencana
Dinas Pariwisata DIY turut berperan aktif dalam manajemen risiko destinasi dengan merilis data kawasan wisata yang berpotensi rawan tanah longsor. Selain Perbukitan Menoreh, area seperti Pegunungan Sewu dan Perbukitan Patuk Imogiri juga masuk dalam daftar perhatian. Destinasi populer seperti Nglinggo Tritis, Puncak Suroloyo, dan Desa Wisata Jatimulyo berada dalam zona pengawasan yang ketat. Pemetaan ini, yang berdasarkan hasil olahan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, adalah prosedur standar dalam upaya mitigasi bencana dan merupakan salah satu aspek kunci dalam menjaga keselamatan wisatawan.
Meskipun kejadian longsor di destinasi wisata tercatat tidak selalu berdampak langsung pada operasionalisasi objek wisata alam secara luas, tantangan utama sering kali terletak pada kerusakan infrastruktur, khususnya jalan. Hal ini dapat menghambat akses wisata menuju lokasi, sehingga memerlukan respons cepat dan efektif. Fenomena tanah longsor sebagai bagian dari dinamika alam memang tidak dapat diprediksi secara pasti. Namun, melalui program pemetaan yang berkelanjutan, sinergi antara BPOB dan Dinas Pariwisata DIY, serta kebijakan pengembangan yang inovatif dan berbasis ekologi, tujuan pariwisata berkelanjutan dan aman di Perbukitan Menoreh dapat tercapai. Upaya mitigasi yang proaktif ini memastikan bahwa keindahan alam Perbukitan Menoreh dapat dinikmati dengan rasa aman, sekaligus melestarikan kekayaan ekologi untuk generasi mendatang.

